Bohlam

 
Bola Lampu
Bola Lampu - Source: Britanica.com

Terdapat sejumlah mitos tentang Thomas Alva Edison, yang secara umum dan mungkin dengan tepat sebagai pencipta terbesar yang pernah ada. Banyak orang melihatnya sebagai karakter Huck Finn dalam setelan kusut berwarna gelap, rambut berantakan, seorang pria tua prefesional yang tidak berbahaya. Kenyataannya, Edison adalah seorang pria egois, terkadang kejam, terobsesi dengan pekerjaannya, yang bisa menjadi cabul dan sedikit kasar. Sekali waktu, misalnya, ketika diwadahi wadah peludahan, ia menolaknya, dan mengatakan bahwa ia akan meludah di lantai saja “karena tidak mungkin meleset”.

Mitos lain adalah bahwa ia menciptakan bohlam pijar. Ada sejumlah orang yang telah menciptakan bohlam pijar sebelum Edison, sebagian sampai 30 tahun sebelumnya. Namun, tidak satu pun bekerja dengan baik. Pencapaiannya adalah menciptakan bohlam yang benar-benar bekerja di dunia nyata.

Keterlibatan Edison dengan pencahayaan pijar dimulai pada musim semi tahun 1878, ketika, pada usia 31 tahun, ia pergi berlibur dengan George Barker, rekannya sesama profesor. Selama perjalanan itu, Barker menyarankan pada Edison yang telah terkenal di dunia karena menciptakan gramofon, serta beberapa hal lain, bahwa yang menjadi target selanjutnya seharusnya adalah memberikan pencahayaan listrik di rumah-rumah di Amerika.

Edison menerima gagasan itu dengan baik. Ketika ia kembali ke “pabrik penciptaan” yang dibangunnya di Menlo Park, New Jersey, ia mengumpulkan sekelompok  ahli dan mengumumkan pada dunia bahwa ia akan membawa pencahayaan ke dalam rumah-rumah di Amerika dalam enam minggu, yang terbukti merupakan prediksi yang terlalu optimis.

Thomas Alva Edison
Thomas Alva Edison - Source: Wikipedia


Sejak awal, Edison memiliki visi untuk menciptakan bohlam yang dapat bekerja dalam sistem listrik di mana bohlam itu hanya membutuhkan sejumlah kecil arus untuk beroperasi, tahan lama, dan di mana dayanya “terbagi”. Jika salah satu bohlam padam yang lainnya tidak ikut padam; juga, tiap-tiap bohlam bisa dikendalikan sendiri-sendiri dengan menekan tombol. Oleh karena itu, ketika ia dan timnya bekerja untuk menciptakan bohlam itu, mereka bekerja untuk menciptakan sistemnya juga karena bohlam tidak akan bekerja tanpa sistem yang baik.

Bohlam pijar adalah sebuah alat yang sederhana dan ilmu pengetahuan inti di baliknya adalah fenomena hambatan listrik. Sebuah arus listrik dialirkan pada materi yang menghambatnya sampai berbagai derajat, sehingga materi memanas dan akhirnya bersinar, memberikan cahaya.

Bohlam pijar pra-Edison menderita berbagai masalah, tetapi masalah utamanya ada dua. Filamen yang dialiri arus listrik tidak tahan panas dan terbakar atau meleleh (jika terbuat dari logam). Di udara terbuka, hal ini akan terjadi dalam hitungan detik atau menit, sehingga si pencipta menyelubungi atau menyegel filamen dalam bola kaca kemudian memompa keluar oksigen, menciptakan ruang hampa tempat filamenn bisa menahan panas dengan lebih baik.

Edison tahu bahwa ia harus menciptakan filamen super, yaitu filamen yang tipis agar praktis dan menggunakan sedikit arus, dan menurut hambatan listrik Ohm filamen itu akan menerima sejumlah besar panas. Namun, ini, pada gilirannya akan memungkinkan ukuran konduktor tembaga yang memberikan daya pada bohlam lebih kecil. Seperti yang dikatakan oleh penulis Matthew Josephson dalam biografinya Edison, “Hanya seperseratus dari berat konduktor  tembaga yang akan diperlukan untuk sistem itu dibandingkan dengan sistem yang memiliki hambatan kecil”.

Dalam pencarian mereka akan filamen yang sempurna, Edison dan timnya menguji sejumlah filamen dan akhirnya memilih platinum, yang memiliki  titik leleh sangat tinggi, 1.755 derajat celcius. Sementara itu, orang-orang lain dalam tim Edison berusaha mengembangkan metode yang lebih baik untuk memompa oksigen keluar dari bola kaca untuk menciptakan ruang hampa yang lebih baik.

Bohlam dengan filamen platinum bekerja, tetapi hanya selama sekitar 10 menit sebelum meleleh. Selain itu, platinum merupakan logam yang langka dan mahal, sama sekali tidak praktis. Edison, dan timnya menguji berbagai materi lain, seluruhnya sekitar 1.600 dan terus berusaha membuat ruang hampa dalam bola kaca agar semakin baik dan lebih baik lagi. Namun, mereka tidak dapat menemukan satu hal pun yang bekerja dengan baik.

Electric Lamp
Gambar Paten Thomas Edison tahun 1880. U.S. Paten Office


Kemudian pada suatu hari, ibarat seorang detektif yang telah memegang kunci sebuah misteri namun mengesampingkannya dan mengambilnya kembali untuk melihat sekali lagi, Edison kembali menguji karbon sebagai filamen, yang telah dilakukannya setahun sebelumnya tetapi dikesampingkan. Sementara itu, Ia berhasil memecahkan sejumlah masalah. Ruang hampa yang lebih baik diciptakan oleh “pompa Sprengal”, yang hanya menyisakan sepersejuta bagian oksigen dalam bohlam, dan ia menemukan cara untuk menghilangkan gas yang cenderung diserap karbon dalam keadaan berpori sehingga mempercepat kehancurannya.

Edison tahu karbon memiliki satu kehebatan. Titik lelehnya tinggi: sekitar 3.500 derajat celcius. Edison menghitung bahwa untuk bekerja dengan hambatan yang tepat filamen harus memiliki diameter 1/64 inchi dan panjang 6 inchi. Untuk membuatnya, ia mengikis jelaga dari lampu gas dan mencampur karbon dengan ter sehingga bisa dibentuk  menjadi filamen. Pengujian yang dilakukan dengan filamen ini menunjukkan bahwa bohlam bisa terbakar selama 1-2 jam sebelum menghancurkan dirinnya sendiri.

Namun, Edison yakin bahwa karena “jelaga campur ter” bekerja dengan baik, mungkin ada materi lain yang, ketika diubah menjadi karbon, akan bekerja lebih baik lagi. Dengan gagasan ini, ia menguji kepingan benang kapas biasa yang diubah menjadi karbon dengan membakarnya dalam wadah tempat melebur logam yang terbuat dari tanah liat.

Filamen itu rapuh, dan beberapa di antaranya patah ketika sedang dipasang dalam lampu percobaan, tetapi akhirnya tim berhasil menjepitkan buluh tipis materi di tempat itu, sebuah bola kaca menyelubunginya, oksigen dikeluarkan, dan arus dialirkan. Hal ini terjadi pada larut malam tanggal 21 Oktober 1879.

Mereka terbiasa dengan filamen yang segera padam. Namun, yang satu ini tidak. Filamen itu memancarkan sinar remang-remang kemerahan sekitar 1% cahaya bohlam 100 watt modern dan menyala terus, terus, dan terus. Akhirnya Edison mulai mengalirkan arus yang semakin besar bohlam menjadi semakin terang dan terang sampai filamen itu hancur. Filamen itu menyala selama 13 ½ jam dan semua orang tahu bahwa bohlam kecil yang remang-remang itu melambangkan zaman cahaya listrik.

Edison, tentu saja, tidak berhenti di situ. Ia memeriksa filamen dengan mikroskop dan menyadari bahwa karbon dengan hambatan tinggi yang ia butuhkan harus berasal dari materi yang kuat, memiliki struktur berserat, dan, yang sangat penting, berbentuk selulosa. Akhirnya, Edison menggunakan bambu yang diimpor dari Jepang yang menyala selama 900 jam.

Hanya dibutuhkan waktu selama tiga tahun bagi Edison jangka waktu singkat yang fenomenal  untuk menciptakan dan memasang sistem listrik yang menghasilkan cahaya dengan praktis. Perusahaannya, Edison Electric Light Company, membangun pusat tenaga listrik di Pearl Street, New York City,, memasang kabel melalui pipa yang sebelumnya digunakan sebagai pipa gas pada calon pelanggan. Awalnya ia hanya memiliki 85 pendaftar. Terdapat kekusutan dan gangguan dalam sistemnya, tetapi setelah masalah ini diatasi dan bohlamnya diperbaiki, semakin banyak orang mendaftar. Pada peralihan abad ke- 20, 1 juta orang memiliki pencahayaan listrik di rumahnya. Sekarang, bola lampu terdiri atas wolfram (filamen) dan nitrogen (bukan hampa udara).

Sepenting apa bohlam dalam kehidupan manusia? Tampaknya kita bisa berbicara tanpa henti tentang kepentingannya, dan ketika barang lain dalam daftar 10 besar, seperti bubuk mesiu (yang menyebabkan terjadinya perdamaian sekaligus kematian lebih banyak orang) dan motor pembakaran internal (yang secara esensial menggerakkan dunia dan mengubah wajah perdagangan) dibandingkan dengannya, benda-benda itu tidak memiliki kepentingan yang lebih besar. Bohlam mengubah malam hari, dalam makna tertentu, menjadi siang hari. Orang bisa membaca, belajar, bangun sampai larut, bekerja, dan pergi makan serta menonton film di malam hari. Robert Freidel, yang turut menulis buku Edison’s Electric Light, menyatakan dampak bohlam dengan sangat baik, “Bohlam membentuk ulang dunia tempat orang-orang bekerja, bermain, hidup, dan mati.... Ini adalah jenis ciptaan yang membentuk ulang dunia, dan cara memandang kemungkinan di dunia.”

Belum ada Komentar untuk "Bohlam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel